Langsung ke konten utama

Kanker serviks, berbahaya tapi bisa dideteksi

Kebanyakan kasus kanker leher rahim ditemukan dalam stadium lanjut karena pada tahap awal biasanya penyakit ini tidak memberikan gejala. Tapi bukan berarti kanker leher rahim (serviks) tidak bisa dideteksi dan dicegah.

Secara umum ada dua cara pencegahan kanker serviks yang disebabkan oleh infeksi human papilloma virus (HPV), yakni pencegahan primer dengan vaksinasi serta pencegahan sekunder dengan pemeriksaan pap smear berkala.

Namun, baik upaya pencegahan primer maupun sekunder belum banyak dilakukan di negeri kita sehingga kanker servik masih merupakan kanker yang sering dijumpai pada perempuan.

"Setiap wanita berpeluang menderita kanker. Pap smear sampai saat ini masih jadi metode deteksi dini kanker leher rahim terbaik, terutama bagi yang pernah berhubungan seksual," kata dr. Chamim, Sp.OG (K) dari Brawijaya Women and Children Hospital, pada acara bertema Early Detection Cervical Cancer and Breast Cancer di Jakarta, Sabtu (6/7).

Pap smear sebaiknya dilakukan secara rutin. Pemeriksaan dilakukan 5 hari setelah haid.  Pemeriksaan ini mengambil contoh sel leher rahim wanita.

Jika hasil pemeriksaan negatif menandakan tidak adanya sel kanker. Meski begitu gaya hidup sehat tetap harus dilakukan untuk menekan risiko kanker. "Jangan lupa untuk kembali pap smear dalam satu atau 2 tahun," katanya.

Sementara itu jika hasil tes positif, menandakan adanya perubahan sel pada tubuh wanita. Chamim menyarankan wanita melakukan biopsi untuk memastikannya. Melalui tes ini akan diketahui apakah sel hanya sekedar berubah (displasia), atau sudah menjadi kanker. Selanjutnya dokter akan menentukan terapi apa yang sebaiknya dijalani.

Pap smear sendiri tidak 100 persen menentukan adanya perubahan sel yang merujuk pada kanker. Tingkat akurasinya berkisar antara 70-95 persen, bergantung pada laboratorium penguji, misalnya keakuratan pengambilan sampel, pengolahan bahan, sampai interpretasi gambar sediaan sampel.

Itu sebabnya terkadang ditemukan adanya hasil false negatif (sel dinyatakan normal padahal terdapat perubahan sel) dan false positif (hasil tes mengatakan wanita memiliki sel leher rahim abnormal padahal sel tersebut sesungguhnya normal).

Namun kesalahan ini bisa diminimalisir bila wanita rutin melakukan pap smear. "Kalau rajin pap smear jadi lebih mudah dan cepat ketahuan. Apalagi bila dokternya sudah sering melakukan pap smear, mungkin kurang dari seminggu sudah ada hasil," jelas Chamim.

Selain pap smear, Chamim menyarankan tes menggunakan Internal Visual with Acidity Avid (IVA). Tes ini menggunakan asam asetat dengan kadar 3-5 persen, yang diteteskan pada leher rahim. Apabila terdapat lesi atau bercak keputihan, maka terdapat perubahan sel yang mengindikasikan pasien untuk melakukan tes lanjutan.

Tes ini, kata Chamim, tidak memerlukan alat atau kapasitas tertentu. "Dokter atau bidan puskesmas bisa melakukannya. Metode ini banyak dipakai di negara berkembang dengan sumber daya terbatas," ujarnya.

Hasil tes IVA juga bisa terbaca dalam waktu kurang dari satu menit. Menurut Chamim, pap smear dan IVA sama efektifnya sebagai deteksi dini cegah kanker. Pengulangan IVA juga sebaiknya dilakukan 1-2 tahun.

Dengan adanya dua metode ini, kata Chamim, tidak ada lagi alasan untuk tidak melakukan deteksi dini kanker leher rahim pada wanita.

Sumber: Kompas.com

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Waspadai 5 gejala kanker serviks

Gejala kanker serviks seringkali disalahartikan sebagai gejala menstruasi biasa. Salah satu hal yang menyebabkan kanker serviks menjadi berbahaya adalah gejalanya yang tak jelas sehingga terlambat untuk dirawat dan diobati. Kanker serviks sering ditemukan ketika sudah sampai tahap sedang dan menunjukkan gejala berbeda antara satu wanita dan wanita lainnya. Untuk itu sebaiknya wanita selalu mewaspadai gejala kanker serviks yang tersembunyi, seperti dilansir oleh Health Me Up berikut ini. 1. Pendarahan yang tak normal Setiap wanita yang memiliki kanker serviks sering mengalami pendarahan yang tak normal pada vagina mereka. Pendarahan ini bisa bervariasi dari parah hingga biasa dalam sebulan. 2. Keputihan Salah satu tanda kanker serviks adalah peningkatan keputihan yang tak wajar. Meski begitu ini seringkali berbeda-beda pada wanita satu dan lainnya. Biasanya keputihan berbau tak sedap, kental, dan mengandung jamur. Jika Anda mengunjungi ahli kandungan, sebaiknya jelaskan pada dokter men...

"Intip Vagina Aku", Deteksi Kanker Lebih Mudah dan Murah

Mengetahui status kesehatan terkini merupakan sesuatu yang penting untuk dilakukan dalam menjaga kesehatan. Dengan mengetahuinya, kita dapat mengenali faktor risiko, bahkan deteksi dini penyakit. Status kesehatan umumnya diketahui dengan melakukan tes kesehatan. Khususnya untuk kanker serviks atau leher rahim, cara yang biasa dilakukan adalah dengan  pap smear . Namun, cara itu cukup mahal dan membutuhkan waktu untuk mengetahui hasilnya. Pilihan lainnya adalah inspeksi vagina dengan asam asetat (IVA) atau tes IVA. "Agar lebih mudah diingat, IVA juga bisa disebut sebagai 'Intip Vagina Aku'," ujar Fitriyadi Kusuma, spesialis kebidanan dari Divisi Ginekologi dan Onkologi Departemen Obstetri dan Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, saat ditemui di diskusi kesehatan SOHO #BetterU di Jakarta. Fitriyadi mengatakan,  pap smear  masih merupakan standar emas untuk mendeteksi risiko kanker serviks karena tingkat akurasinya di atas 90 persen. Namun, teknik pemeri...

Obat-obatan yang meningkatkan risiko cacat lahir

Saat hamil, bukan hanya alkohol dan sushi yang harus dihindari. Konsumsi obat untuk meringankan hidung tersumbat (dekongestan) yang dijual bebas ternyata juga berisiko meningkatkan kelahiran bayi cacat. Tim peneliti dari Harvard University and Boston University memeriksa 20.000 bayi dari berbagai negara bagian di AS pada dua dekade terakhir. Tim peneliti meminta perawat bertanya kepada ibu dari bayi-bayi itu apakah selama hamil minum obat dekongestan. Ternyata, beberapa jenis dekongestan meningkatkan risiko kecacatan tertentu pada bayi baru lahir. Penelitian juga mengidentifikasi tiga bahan dekongestan yang berbahaya, terutama jika dikonsumsi pada trimester pertama dan atau menjelang kehamilan. 1. Phenylephrine Phenylephrine meningkatkan risiko 8 kali lebih besar pada cacat  endiocardial cushion , di mana kondisi dinding jantung bayi tidak terbentuk sempurna. Phenylephrine ditemukan pada merek obat dengan huruf PE di belakangnya, seperti Sudafed PE Congestionand dan Suphedrin PE. 2. Ph...